Detail Informasi

Keadilan Akses Ekonomi dan Ketahanan Pangan

Admin ISMI | 8 Juli 2025 | Opini Sarjana
Keadilan Akses Ekonomi dan Ketahanan Pangan

Oleh: Yanhar Jamaluddin & Syafrial Pasha

"Di negeri yang subur, ironi terbesar adalah: petani menanam padi, tapi tak mampu menyantap nasi. Krisis pangan harus dibaca bukan hanya dari sisi teknokratis, tapi juga sebagai kegagalan struktural dalam menjunjung nilai-nilai budaya."

Akses Ekonomi: Fondasi Ketahanan Pangan Selama ini kebijakan pangan sering hanya berkutat pada angka produksi (ton gabah, luas lahan). Namun, ISMI menekankan bahwa tanpa keadilan akses ekonomi, ketahanan pangan hanyalah slogan tanpa isi. Jika petani kecil tidak memiliki daya beli, pangan melimpah pun tidak akan sampai ke meja mereka.

Tiga Peran Strategis ISMI:

  1. Produksi Pengetahuan: Mendorong riset kritis untuk memetakan kerentanan ekonomi petani dan nelayan lokal.
  2. Penguatan Lembagaan: Menghidupkan kembali Koperasi dan BUM-Desa di wilayah Melayu melalui pendampingan manajemen.
  3. Transformasi Kebijakan: Menjadi penyusun naskah akademik yang menjembatani kebijakan daerah agar lebih berpihak pada rakyat.

Simpulan: Pangan adalah Kehormatan Dalam budaya Melayu, pangan bukan sekadar kebutuhan biologis, tapi simbol kehormatan dan keberkahan. Perjuangan ISMI belum selesai selama petani kita belum bisa menikmati hasil jerih payahnya sendiri. ISMI harus terus bergerak dari desa menuju Indonesia yang berdaulat.

(Sumber : https://www.waspada.id/opini/keadilan-akses-ekonomi-ketahanan-pangan/)