Detail Informasi

Menakar Peran Strategis Sarjana Melayu Dalam Menyongsong Visi Asta Cita Menuju Indonesia Emas 2045

Admin ISMI | 24 Juni 2025 | Berita
Menakar Peran Strategis Sarjana Melayu Dalam Menyongsong Visi Asta Cita Menuju Indonesia Emas 2045

MEDAN – Kehadiran kelompok sarjana sebagai komunitas masyarakat terpelajar merupakan instrumen krusial bagi kekuatan sebuah negara. Dalam sebuah ulasan tajam, Prof. Dr. Nispul Khoiri, M.Ag, memaparkan bagaimana eksistensi sarjana Melayu yang kini berhimpun dalam Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) memiliki tanggung jawab sejarah untuk menjadi agen perubahan (agent of change) demi masa depan Indonesia.

Terminologi dan Eksistensi Sarjana Melayu Secara terminologi, sarjana Melayu didefinisikan sebagai cendekiawan yang memiliki pengetahuan mendalam serta keahlian akademik di bidangnya masing-masing. Prof. Nispul menjelaskan bahwa kelompok ini telah bertransformasi menjadi sumber daya manusia handal yang menduduki berbagai posisi strategis, mulai dari birokrat, politisi, ekonom, hingga akademisi. Kehadiran ISMI kemudian lahir sebagai wadah untuk mengembangkan potensi diri, etnis, daerah, serta negara secara kolektif.

ISMI sebagai Aset Strategis Negara ISMI bukan sekadar organisasi kemasyarakatan biasa, melainkan aset strategis yang menjadi penyangga tegaknya pilar-pilar pembangunan nasional. Prof. Nispul menekankan empat fungsi utama ISMI bagi negara:

  1. Peningkatan Legitimasi Kebijakan: Mendukung kebijakan negara yang memberikan kemaslahatan bagi masyarakat.
  2. Efektivitas Program Pemerintah: Berpartisipasi aktif dalam pembangunan daerah karena pemahaman mendalam terhadap persoalan akar rumput.
  3. Penguatan Demokrasi: Mengawal jalannya demokrasi agar pemerintah tetap responsif terhadap aspirasi rakyat.
  4. Menjaga Keutuhan NKRI: Menjadi alat pemersatu di tengah kemajemukan bangsa dan meredam potensi konflik horizontal.

Peta Jalan Menuju Asta Cita 2045 Memasuki periode kepengurusan 2025–2030, ISMI didorong untuk memiliki peta jalan (roadmap) yang selaras dengan tantangan kontemporer. Fokus utama ke depan adalah menyelaraskan program organisasi dengan delapan misi Asta Cita pemerintahan Prabowo-Gibran. Hal ini mencakup penguatan ideologi, swasembada pangan dan energi, peningkatan kualitas SDM, hingga reformasi birokrasi dan pelestarian budaya.

"ISMI harus mampu memasukkan dirinya ke dalam visi Asta Cita sebagai landasan kerja organisasi. Penyelarasan ini sangat penting agar ISMI berkontribusi nyata pada pencapaian visi Indonesia Emas 2045, terutama dalam menyiapkan generasi produktif menghadapi bonus demografi," ungkap Prof. Nispul.

Menutup tulisannya, beliau berharap momentum pengukuhan pengurus baru ISMI menjadi titik awal pembenahan di segala sisi, sehingga organisasi ini mengkristal menjadi wadah yang modern, elit, dan benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat luas, khususnya masyarakat Melayu.

(Sumber : https://mudanews.com/opini/2025/06/24/sarjana-melayu-dalam-asta-cita-indonesia-emas-2045/)